Langkah kaki Nara akhirnya tiba di Kota Musik Mengalun — sebuah tempat yang terdengar bahkan sebelum terlihat. Bayangkan: jalanan terbuat dari batu berwarna-warni yang mengeluarkan nada saat diinjak, dan angin yang bertiup membelai lonceng-lonceng kecil di setiap sudut rumah. Begitu ia melangkah ke alun-alun kota, sepasang burung biru terbang rendah sambil membawa pita yang bertuliskan: "Selamat datang, Penjelajah Nada!" Nara terkikik. "Penjelajah Nada... Waduh, berat juga nih titel baruku." Di tengah alun-alun, ada patung batu besar berbentuk biola raksasa. Dan di sampingnya, seorang pemuda bertopi bundar sedang sibuk menyetem ukulele sebesar semangka. "Hei, kamu!" serunya, ceria. "Kamu kelihatan seperti orang yang butuh sedikit irama dalam hidup!" Nara menoleh kanan-kiri, memastikan memang dia yang dimaksud. "Saya memang suka musik," katanya sopan, "tapi saya lebih jago membuat suara fals daripada nada emas." Pemuda itu tert...