Pagi itu, Nara melangkah menyusuri jalanan berbatu menuju Kota Cermin Berbalik.
Udara dingin membuat hidungnya merah seperti tomat kecil. Ia menahan bersin sambil mengomel kepada dirinya sendiri.
"Semangat, Nara. Petualang sejati tidak dikalahkan oleh hidung berair."
Kota Cermin Berbalik terkenal aneh: semua bangunan dilapisi kaca bening seperti cermin. Setiap gerakan, setiap senyum, bahkan setiap kedipan mata... terpantul ratusan kali.
"Astaga...," gumam Nara saat melihat bayangannya melambai dari segala arah. "Aku kayak bintang iklan pasta gigi."
Saat ia berjalan, sebuah kucing putih kecil tiba-tiba berlari ke arahnya.
Nara berjongkok cepat untuk menyambutnya—
BLAK!
Kepalanya malah menabrak salah satu cermin dinding!
Sambil mengusap dahinya, ia terkikik pelan.
"Oke. Catatan untuk hari ini: jangan duel dengan cermin."
Di pusat kota, ada satu tempat yang disebut "Gedung Refleksi".
Warga kota berbisik, siapa pun yang masuk ke dalamnya akan bertemu dengan "dirinya yang sesungguhnya."
"Kadang, yang kita lihat bukan yang kita inginkan," kata seorang penjual roti sambil menyodorkan roti keju.
"Tapi justru itu yang perlu kita kenali."
Dengan roti keju di tangan (dan semangat setengah berani), Nara pun melangkah masuk ke Gedung Refleksi.
Begitu ia membuka pintu, cermin-cermin raksasa menyambutnya, membentuk lorong panjang berkelok.
Di cermin pertama, ia melihat dirinya sendiri... tapi lebih kecil, lebih muda, dengan wajah ketakutan.
"Apakah itu aku... waktu kecil?" bisiknya.
Gadis kecil itu menatapnya dengan mata lebar.
"Aku takut ditinggalkan. Makanya aku suka pergi duluan," katanya dengan suara gemetar.
Nara merasakan sesuatu mencubit hatinya.
Ia berlutut dan mengulurkan tangan kepada bayangannya.
"Tidak apa-apa takut," kata Nara lembut. "Tapi sekarang, kita tahu caranya berjalan bahkan saat takut."
Gadis kecil itu tersenyum, lalu perlahan menghilang seperti embun pagi.
Nara melanjutkan.
Di cermin kedua, ia melihat dirinya... tapi sombong, dengan ransel penuh piala dan wajah angkuh.
"Akulah yang kamu banggakan," kata bayangan itu. "Aku lah bukti bahwa kamu lebih baik dari yang lain."
Nara menahan napas.
Ada saat-saat ia memang merasa lebih dari orang lain, terutama saat berhasil melewati rintangan sendiri.
Ia menatap bayangan itu dalam-dalam.
"Terima kasih sudah menjaga rasa percayadiriku," katanya. "Tapi aku ingin lebih banyak mendengarkan, bukan hanya membuktikan."
Bayangan itu tersenyum kaku... lalu berubah menjadi dirinya yang sederhana kembali.
Akhirnya, di cermin terakhir, Nara melihat dirinya sekarang.
Tapi kali ini, ia tampak... lelah.
Matanya berbinar, tapi pundaknya sedikit membungkuk.
Wajahnya membawa tawa, tapi juga beban kecil yang tersembunyi.
"Hei kamu," kata pantulan itu sambil tersenyum ramah. "Tidak apa-apa berhenti sejenak. Tidak apa-apa butuh orang lain. Tidak apa-apa menjadi Nara, bukan sekadar petualang hebat."
Untuk pertama kalinya, Nara tertawa sambil menangis.
"Aku suka kamu," bisiknya pada pantulan dirinya.
"Aku bangga sama kamu."
Saat keluar dari Gedung Refleksi, matahari sore menyambutnya dengan hangat.
Di luar, kucing putih tadi menunggu sambil membawa sesuatu di mulutnya: sepotong pita merah.
Nara berjongkok, kali ini lebih hati-hati supaya tidak mencium cermin lagi.
"Kamu pintar ya," katanya sambil mengikatkan pita itu di ranselnya. "Hadiah kelulusan dari Kota Cermin?"
Kucing itu mengedipkan satu mata, seolah berkata: "Tentu saja."
Lalu kabur lagi entah ke mana.
Malam itu, Nara duduk di atas atap penginapan, memandang pantulan bulan di ratusan cermin kota.
Dalam catatan hariannya, ia menulis:
"Aku belajar bahwa menjadi kuat bukan berarti menutupi ketakutan, kesombongan, atau kelelahan.
Menjadi kuat berarti berani mengakuinya.
Dan tetap melangkah, dengan hati yang lebih ringan."
Ia tersenyum, menatap pita merah kecil yang berkibar di ranselnya. Besok, perjalanan baru menanti.
Tapi malam ini, Nara hanya ingin berterima kasih—pada dirinya sendiri.

Komentar
Posting Komentar