“Kalau kamu pengin lihat pelangi tiga tingkat, datanglah ke Desa Luntur saat musim hujan,” begitu yang dikatakan seorang kakek yang Nara temui di stasiun minggu lalu. Dan, sebagai orang yang pantang menolak rasa penasaran, Nara kini berdiri di tengah ladang ilalang, dengan sepatu penuh lumpur, kompas digital yang error, dan senyum separuh pasrah.
“Baik, Nara. Kau tersesat lagi. Tapi kali ini, semoga nggak disambut kawanan kambing liar seperti di Bukit Tanduk waktu itu,” gumamnya sambil menepuk debu dari ranselnya.
Langit mendung menggantung di atas kepalanya. Pepohonan bergoyang pelan diterpa angin. Hanya ada satu jalur tanah yang tampak seperti bekas ban traktor, melengkung ke arah bukit. Nara mengambil napas panjang.
“Yuk lanjut, sebelum awan berubah jadi hujan ulangan.”
Perjalanan menuju Air Terjun Tiga Pelangi ternyata jauh lebih sulit dari yang dibayangkan. Jalan tanah becek. Jalur tidak ada petunjuk. Dan sinyal? Hilang sejak tadi pagi. Tapi Nara tidak mudah menyerah. Dengan celana panjang digulung, ia menapaki jalur licin sambil terus bergumam seperti sedang berbicara dengan kameranya.
“Sahabat-sahabat petualang, hari ini kita belajar tentang... bagaimana tetap tenang meskipun sepatu kita tenggelam setengah ke dalam lumpur.”
Tiba-tiba—pluk!
Kaki kirinya masuk ke lubang lumpur yang dalam. Ia terjerembab, tangan penuh tanah, dan rambutnya sekarang berhiaskan daun kering.
“Baiklah. Mungkin pelangi itu butuh tumbal,” ucapnya datar.
Belum sempat bangkit, terdengar suara dari balik semak.
“Mbak, nggak apa-apa?”
Seorang pemuda dengan topi rimba muncul, membawa seikat bambu dan senyum penuh prihatin.
Nara mengangguk, berdiri perlahan sambil membersihkan tangannya. “Nggak apa-apa kok. Saya cuma... uji kekuatan tanah lokal.”
Pemuda itu tertawa. “Kalau mau ke air terjun, jalurnya lewat kiri, bukan kanan. Tapi ya... saya juga dulu pernah nyasar ke sini. Semua orang yang niat lihat pelangi pertama kali pasti jeblos.”
Nara tertawa kecil. “Jadi ini semacam... tradisi penyambutan?”
Pemuda itu memperkenalkan diri sebagai Rian, warga lokal yang suka memandu wisatawan, meski tidak secara resmi. “Tapi saya cuma bantu kalau lagi senggang. Kalau hari ini Mbak nggak keberatan, saya bisa antar. Gratis, tapi dengan satu syarat.”
Nara mengerutkan alis. “Apa?”
“Jangan ngetawain gaya saya jalan. Kaki saya pernah keseleo pas lari dari ayam hutan, jadinya agak miring.”
Dan begitu saja, perjalanan mereka berlanjut dengan tawa ringan dan obrolan sederhana. Nara merasa seperti kembali ke masa kecil, di mana bertemu orang asing bisa semudah bertukar senyum dan kalimat pertama.
Air terjun itu akhirnya tampak. Tinggi, bertingkat, dan memantulkan cahaya dalam tiga lapisan warna pelangi samar. Nara terdiam. Matanya membulat. Seluruh tubuhnya menggigil, bukan karena dingin, tapi karena takjub.
“Nara,” gumamnya pada diri sendiri, “inilah alasan kenapa kamu nggak boleh malas nyasar.”
Ia mendekat, mengambil kamera, lalu merekam video sambil berdiri di antara semak basah.
“Sahabat petualang, pelangi itu indah bukan karena warnanya. Tapi karena ia muncul setelah hujan. Dan kadang, pelangi terbaik justru terlihat setelah kamu tersesat, tergelincir, dan... mandi lumpur.”
Rian tersenyum dari jauh, melihat Nara berbicara penuh semangat pada kameranya.
Malam itu, Nara menginap di rumah keluarga Rian. Ibu Rian memasakkan sup jagung dan teh jahe, dan Nara duduk di beranda sambil menulis di jurnalnya.
“Hari ini aku belajar satu hal: kesalahan bukan musuh. Tersesat bukan akhir. Dan lumpur… bisa jadi teman kalau kamu tahu cara tertawa dengannya.”
“Kadang kita terlalu terobsesi dengan peta, kompas, dan rencana. Tapi hidup bukan proyek. Ia lebih mirip... petualangan. Tak semua harus presisi. Asal hati tetap terbuka, dan sopan santun tetap di ransel, jalan akan menunjukkan arah.”
Keesokan harinya, sebelum pergi, Rian memberinya seikat kecil bunga liar dan sepotong kayu yang diukir bentuk pelangi.
“Buat kenang-kenangan. Biar kalau Mbak lagi di kota dan kena macet, bisa ingat... bahwa lumpur bisa lebih menyenangkan daripada klakson,” ujar Rian.
Nara tertawa dan menjabat tangannya erat. “Terima kasih, Rian. Ini perjalanan yang nggak akan aku lupa.”
Dan saat ia naik ke mobil angkutan untuk kembali ke kota, Nara menoleh ke luar jendela, melihat jejak langkahnya yang sempat tenggelam dalam lumpur. Tapi di situlah, ia pertama kali belajar:
Bahwa tersesat bukan berarti salah arah. Kadang, itu satu-satunya cara untuk melihat pelangi.
🌈 Pelajaran dari Kota Air Terjun Tiga Pelangi:
Hidup tak harus selalu sesuai rencana. Justru dalam momen tak terduga, kita menemukan keindahan yang tak bisa dirancang. Tersesat bisa jadi awal dari menemukan versi diri yang lebih berani dan jujur.

Komentar
Posting Komentar