Hujan turun deras saat kereta Nara memasuki Kota Batu Jangkar—sebuah kota pelabuhan tua di pesisir barat, terkenal dengan tanjung berbatu dan patung jangkar raksasa yang berdiri kokoh menghadap laut lepas. Kabut menyelimuti kota, dan setiap langkah terasa berat, seolah tanah itu menyimpan cerita-cerita yang belum selesai ditulis. Nara menarik napas panjang dari balik syalnya yang basah. Ini bukan sekadar kota lain dalam petualangannya. Ini adalah tempat di mana ia harus menghadapi sesuatu yang paling sulit dari semua petualangan: kenangan lama yang belum selesai. Tujuh tahun lalu, di kota inilah Nara dan sahabat masa kecilnya, Tian, terakhir berbicara. Lebih tepatnya: berdebat, saling menyalahkan, dan berpisah dengan amarah yang membekas dalam diam. Mereka tumbuh bersama sejak kecil, seperti dua sisi mata uang—Nara si pencari tantangan, Tian si pemikir tenang. Tapi waktu itu... semuanya pecah karena satu hal kecil: sebuah pilihan yang tidak saling dimengerti. Nara memilih merantau, Tia...