Langit malam Kota Pasar Tengah Malam selalu bersinar ungu keperakan, seolah-olah bintang-bintang di sana memilih berdagang juga. Di kota ini, pasar hanya buka saat jarum jam menunjuk pukul dua belas malam. Ribuan tenda berdiri dalam labirin sempit, menjual segala sesuatu yang bisa dibayangkan—dari biji kopi langka, kunci tanpa pintu, hingga jam pasir yang berjalan mundur. Nara tiba di kota itu dengan rasa penasaran yang membara. Ia selalu menyukai tantangan, dan apa yang lebih seru daripada menjelajah pasar tengah malam sendirian? Dengan ransel kecil dan jaket abu-abu, ia masuk ke pasar begitu lonceng jam kota berbunyi dua belas kali. Bau rempah, aroma roti panggang, suara tawar-menawar, dan tawa bercampur menjadi simfoni aneh yang membuat jantungnya berdebar. Awalnya, Nara sangat menikmati petualangan ini. Ia membeli sebotol teh berwarna biru dari seorang nenek bermata satu, lalu mencoba sarung tangan yang bisa berbisik dari seorang anak kecil yang tampak seperti pesulap. Tetapi semak...