Langsung ke konten utama

Postingan

Cara Otomatis Mengisi Tanggal Hari Ini di Google Form & Sheet (Tanpa Ribet!)

Kamu pernah nggak sih bertanya-tanya, “Gimana ya caranya bikin form yang otomatis ngisi tanggal hari ini?” Awalnya, saya kira solusinya cuma satu: pakai JavaScript di dalam form. Tapi… ternyata saya lupa satu hal penting! Setiap entri di Google Form otomatis dicatat waktunya (timestamp). Yup, setiap kali kamu isi form, sistem langsung mencatat tanggal dan jamnya. Jadi, sebenarnya kamu sudah punya informasi tanggal! Tinggal kita olah sedikit di Google Sheet. Langkah-langkahnya: Buka Google Sheet yang terhubung ke form kamu. Tambahkan kolom baru (boleh di kiri, kanan, atau di mana saja, asal masih dalam baris yang sama dengan data entri). Misal di kolom C. Di kolom baru itu, ketikkan formula ini di headernya (row pertama). (Misal kolom A berisi timestamp dari data yang sudah entry. =arrayformula(if(isblank(A:A),,if(isblank(C:C),A:A,C:C))) Penjelasan sederhananya: Kolom A: berisi timestamp dari Google Form (otomatis). Kolom C: isian manual tanggal (jika kamu ingin menulisnya...
Postingan terbaru

Mencari hari Senin dari minggu tertentu atau tanggal tertentu

Menentukan hari Senin dari minggu atau tanggal tertentu bisa sangat berguna, baik untuk perencanaan kerja, belajar, atau sekadar mengatur jadwal. Berikut adalah panduan cepat dan mudah untuk menemukannya secara tepat. Function yang diperlukan  Ada beberapa function yang diperlukan untuk mencari hari Senin dari minggu tertentu, =WEEKDAY(date, [type]) Hasilnya sebuah bilangan yang menyatakan hari ke-berapa dari 1 minggu. date: tanggal yang jadi patokan type (opsional): 1: (default) menganggap hari Minggu adalah hari pertama dalam 1 minggu 2: menganggap hari Senin adalah hari pertama Cth: 15 Mei 2025, weekday(date(2025,5,15),2) = 4, hari Kamis.  =WEEKNUM(date, [type]) Hasilnya sebuah bilagan yang menyatakan date berada di minggu ke berapa dari awal tahun. 1 Januari = week 1. Type, idem dengan weekday Sekarang langkah cari hari Senin. Jika yang diketahui adalah tanggal sekarang Misal diketahui hari ini; =today() Cari dia hari apa =WEEKDAY(today()) Kurangi hari ini +1 =today()-WEEK...

Kota Musik Mengalun

Langkah kaki Nara akhirnya tiba di Kota Musik Mengalun — sebuah tempat yang terdengar bahkan sebelum terlihat. Bayangkan: jalanan terbuat dari batu berwarna-warni yang mengeluarkan nada saat diinjak, dan angin yang bertiup membelai lonceng-lonceng kecil di setiap sudut rumah. Begitu ia melangkah ke alun-alun kota, sepasang burung biru terbang rendah sambil membawa pita yang bertuliskan: "Selamat datang, Penjelajah Nada!" Nara terkikik. "Penjelajah Nada... Waduh, berat juga nih titel baruku." Di tengah alun-alun, ada patung batu besar berbentuk biola raksasa. Dan di sampingnya, seorang pemuda bertopi bundar sedang sibuk menyetem ukulele sebesar semangka. "Hei, kamu!" serunya, ceria. "Kamu kelihatan seperti orang yang butuh sedikit irama dalam hidup!" Nara menoleh kanan-kiri, memastikan memang dia yang dimaksud. "Saya memang suka musik," katanya sopan, "tapi saya lebih jago membuat suara fals daripada nada emas." Pemuda itu tert...

Kota Cermin Berbalik

  Pagi itu, Nara melangkah menyusuri jalanan berbatu menuju Kota Cermin Berbalik. Udara dingin membuat hidungnya merah seperti tomat kecil. Ia menahan bersin sambil mengomel kepada dirinya sendiri. "Semangat, Nara. Petualang sejati tidak dikalahkan oleh hidung berair." Kota Cermin Berbalik terkenal aneh: semua bangunan dilapisi kaca bening seperti cermin. Setiap gerakan, setiap senyum, bahkan setiap kedipan mata... terpantul ratusan kali. "Astaga...," gumam Nara saat melihat bayangannya melambai dari segala arah. "Aku kayak bintang iklan pasta gigi." Saat ia berjalan, sebuah kucing putih kecil tiba-tiba berlari ke arahnya. Nara berjongkok cepat untuk menyambutnya— BLAK! Kepalanya malah menabrak salah satu cermin dinding! Sambil mengusap dahinya, ia terkikik pelan. "Oke. Catatan untuk hari ini: jangan duel dengan cermin." Di pusat kota, ada satu tempat yang disebut "Gedung Refleksi". Warga kota berbisik, siapa pun yang masuk ke dalamnya ...

Kota Danau Dua Langit

Nara tiba di Kota Danau Dua Langit saat senja hampir habis. Seperti namanya, kota ini terletak di atas sebuah danau luas, airnya jernih memantulkan langit begitu sempurna hingga sulit membedakan mana langit asli, mana bayangannya. "Seperti berjalan di antara dua dunia," gumam Nara sambil tersenyum kecil. Ia melangkah di jembatan kayu tipis yang membelah danau, ranselnya bergoyang setiap kali ia loncat kecil menghindari papan kayu yang longgar. Salah satu papan tiba-tiba berbunyi keras—"KRIEEET"—hingga seekor burung camar hampir menjatuhkan ikan dari paruhnya. Nara menahan tawa sambil membungkuk meminta maaf pada burung itu. "Maaf, Pak Camar. Semoga makan malam Anda selamat." Begitu khas Nara: sopan bahkan kepada burung! Di pusat kota, ia menemukan sebuah penginapan kecil bertuliskan "Pondok Dua Langit". Pemiliknya, seorang nenek gemuk bernama Bu Mina, menyambut Nara dengan pelukan yang terasa seperti bantal hidup. "Anak sepetualang kamu past...

Kota Pasar Tengah Malam

Langit malam Kota Pasar Tengah Malam selalu bersinar ungu keperakan, seolah-olah bintang-bintang di sana memilih berdagang juga. Di kota ini, pasar hanya buka saat jarum jam menunjuk pukul dua belas malam. Ribuan tenda berdiri dalam labirin sempit, menjual segala sesuatu yang bisa dibayangkan—dari biji kopi langka, kunci tanpa pintu, hingga jam pasir yang berjalan mundur. Nara tiba di kota itu dengan rasa penasaran yang membara. Ia selalu menyukai tantangan, dan apa yang lebih seru daripada menjelajah pasar tengah malam sendirian? Dengan ransel kecil dan jaket abu-abu, ia masuk ke pasar begitu lonceng jam kota berbunyi dua belas kali. Bau rempah, aroma roti panggang, suara tawar-menawar, dan tawa bercampur menjadi simfoni aneh yang membuat jantungnya berdebar. Awalnya, Nara sangat menikmati petualangan ini. Ia membeli sebotol teh berwarna biru dari seorang nenek bermata satu, lalu mencoba sarung tangan yang bisa berbisik dari seorang anak kecil yang tampak seperti pesulap. Tetapi semak...

Kota Telinga Daun

Kota ini tidak tercatat dalam peta wisata. Bahkan namanya, Kota Telinga Daun, terdengar seperti lelucon yang tidak lucu. Tapi Nara datang bukan karena tempat ini terkenal—melainkan karena ia mendengar satu cerita dari seorang nenek di stasiun minggu lalu. “Ada kota di dataran tinggi, di mana orang-orang tidak sekadar hidup, tapi benar-benar hadir. Mereka tidak sibuk menunggu sinyal. Di sana, bahkan daun pun seperti mendengarkanmu.” Itu cukup untuk membuat Nara membeli tiket kereta paling pagi dan menempuh perjalanan 8 jam yang berliku. Kereta berhenti di stasiun kecil yang nyaris tersembunyi di balik kabut dan hutan cemara. Nara turun dengan ransel, syal wol biru, dan semangat penasaran yang mulai memanas. Jalannya berbatu, dan setiap rumah memiliki pekarangan luas yang dipenuhi pohon dan suara burung. Orang-orang di kota ini menyambutnya dengan mata yang lembut dan senyum yang tulus, seperti menyambut seseorang yang mereka kenal sejak lama. Seorang perempuan muda dengan rambut keritin...